TELADAN DARI DUNIA ANIMALIA

Image

Manusia terus bersaing seiring dengan pertumbuhan ekonomi global. Bekerja keras mendapatkan materi tidak sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi juga memnuhi hasrat keilmuan yang dimiliki. Di sisi lain dalam kehidupannya, manusia jarang memperhatikan makhluk hidup kecil yang hidup di sekitarnya karena kesibukan lain. Salah satunya, filum animalia yang ada di sekitar kita.

Manusia memiliki otak yang memiliki lebih dari 10.000 milyar sambungan antar sel yang setiap hari digunakan untuk berfikir menelusuri pengalaman, mengumpulkan data- data untuk membentuk ide baru. Tentu kodrat ini berbeda jauh dengan makhluk hidup lain. Tapi coba kita perhatikan sejenak lingkungan halaman rumah kita. Sekedar berjalan- jalan atau bahkan menyapu halaman. Makhluk hidup apa yang anda temukan di sana? Tentu jawabannya bervariasi, tergantung dengan kecermatan anda melihat ekosistem halaman rumah anda sendiri. Sekarang perhatikan bangunan rumah yang ada di depan mata anda. Arsitek yang membangun rumah anda, sebelumnya pasti berusaha keras membuat rencana- rencana rumit untuk menyusun konsep.

Arsitektur tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia dalam perencanaan lansekap. Pernahkah anda melihat keindahan bangunan karya arsitek hebat dunia seperti atap stadion olimpiade Munich atau Bandar udara Jeddah. Bangunan ini terinspirasi dari sarang laba-laba. Berarti laba- laba pun punya konsep sendiri untuk membangun sarangnya meskipun ia bukan sarjana arsitek seperti manusia.

Nah ada beberapa hewan lain yang memiliki kemampuan arsitek yang hebat selain laba-laba, seperti berang- berang, rayap dan semut.

Berang- berang pernah diteliti oleh Jean Thie  tahun 2007. Bendungan yang dibangun berang- berang sepanjang lebih dari satu mil ternyata dibangun lebih dari 30 tahun yang dikerjakan oleh beberapa generasi berang- berang. Bendungan ini dapat dilihat dari luar angkasa.

 Rayap pernah diteliti oleh Alan Milis yang mengemukakan bahwa Rayap menggunakan cara bunuh diri untuk menyelamatkan koloninya. Penelitian ini hampir mirip dengan penelitian Diah Anisa Dwirini, siswi SMP N 7 Yogyakarta tahun 2005 yang meneliti tentang semut serta maju ke kompetisi karya tulis internasional. Perbedaannya hanya terletak pada situasi bunuh dirinya. Rayap bunuh diri saat bertarung melawan musuhnya sedangkan semut bunuh diri saat musim kawin. Uniknya kedua penelitian ini dirilis dengan perbedaan waktu 21 tahun. Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa pengorbanan individu dalam koloni sungguh besar, bagaimana jika dibandingkan dengan sikap social manusia? Jawabannya ada dalam prinsip kita masing- masing.

Mari kita kembali membahas salah satu dari arsitek hebat dalam dunia animalia, filum artropoda, species laba- laba taman (Aurantia argiope). Dari struktur tubuhnya, laba- laba itu ada dua, yaitu laba- laba sejati dan tarantula. Yang biasanya kita lihat di halaman rumah adalah laba- laba sejati, sedangkan tarantula hidup di stepa atau gurun. Jika kita perhatikan pola tingkah laku laba- laba, maka kita akan menyadari betaba hebat caranya membuat sarang, seperti arsitek yang sedang membuat rencana rumit. Menurut penelitian Volarth, laba- laba menghasilkan benang- benang dengan berbagai macam sifat untuk fungsi yang sesuai, salah satunya adalah untuk membuat kepompong yang anti sobek, Benang spiral yang tidak terlalu elastik untuk dilalui laba- laba, benang untuk membuat bingkai jaring, benang lembut untuk membungkus telur dan mangsa. Secara kasat mata semua komponen jaring laba- laba sama. tapi ternyata setelah diteliti laba- laba punya kelenjar yang berbeda- beda untuk membentuk kehidupannya.

Selain mirip arsitek, laba- laba juga mirip ahli kimia, karena benang- benang kuat dan fleksibelnya itu mengandung asam- asam pelarut, terkadang mematikan bagi mangsanya. Laba- laba pun punya taktik jitu saat menyerang mangsanya.

Berdasarkan pengamatan yang pernah saya lakukan, laba- laba memiliki markah di sarangnya agar serangga atau hewan terbang lainnya tidak menabrak sarangnya. Ada dua jenis sarang, yaitu dua dimensi dan tiga dimensi. Dua kali saya memergoki laba- laba ini membuat sarang (dua dimensi) nya pada pagi hari. Awalnya membuat bingkai lalu jari- jari, yang terakhir ia merancang segibanyak berawal dari pusat sarang dengan perlahan- lahan tapi pasti. Di sisi lain saya juga menemukan sejumlah anak laba- laba di bawah daun tanaman Diffenbachia amoena, warnanya putih, belum menampakkan warna alami seperti induknya. Di ujung dari sarang itu terdapat kupu- kupu yang dibungkus benang halus. Induknya sengaja mengawetkan makanan (menjaga kesegaran makanan dalam waktu lama) untuk anaknya dengan cara membungkusnya dengna benang khusus. Induknya berada di radius ±3m di sarang yang terpisah dari anak- anaknya. Tiga hari kemudian anak laba- laba meninggalkan sarangnya dengan meninggalkan bekas benang – benang yang panjang berikatan dengan dahan pohon rambutan di sebelahnya.

Selanjutnya ada beberapa hal yang saya lakukan pada laba- laba itu. Saya berusaha mendesaknya untuk mengetahui reaksinya. Setelah saya merusak sarangnya keesokan harinya ia berpindah ke tempat lain untuk membuat sarang baru. Saat saya mendesaknya mengeluarkan benang- benangnya ia terjun bebas dengan mudah, tapi naik dengan susah payah. Saat laba- laba gagal mengaitkan benangnya ke benda lain untuk melarikan diri, ia memilih jalan keluar lain yaitu melarikan diri dengan kakinya.

Dari beberapa fakta diatas Laba- laba mendidik anak- anaknya menjadi mandiri sejak usia yang masih muda. Ini dibuktikan dengan posisi laba- laba besar dan anak- anaknya terpisah. Tapi laba- laba ini tetap mengawasi anaknya dari jauh, dibuktikan dengan ibu laba- laba yang bertengger di sarang yang berjarak satu meter dari anak- anaknya.

Laba- laba memberikan pelajaran dari caranya terjun ke bawah dan naik ke atas. Semua orang dapat dengan mudah menjadi orang yang gagal, karena terlalu lama berada di zona nyamannya, seperti laba- laba saat ia ingin meluncur ke bawah ia tidak perlu susah- susah mengeluarkan tenaganya. sedangkan orang sukses itu butuh perjuangan yang tidak sedikit, seperti laba- laba yang naik ke atas, dia mengerahkan tenaganya unutk menggulung jarring- jaringnya, sehingga gerakannya pun tidak secepat saat ia akan meluncur ke bawah.

Laba- laba memberi pelajaran saat dia gagal mengaitkan jarring- jaringnya ke seng, alhasil diapun terjatuh, tapi ia cepat- cepat merayap ke tempat yang lebih aman dengan kakinya. Maka jika kita gagal menggunakan suatu metode, kita harus cepat bangkit untuk mengganti metode, guna mencapai tujuan.

Saat saya merusak sarangnya, dia tidak membangun sarangnya di tempat itu lagi, melainkan di tempat lain. Jika kita pernah gagal, maka jangan buat diri kita tertekan dengan hal itu, jadikan hal itu sebagai pelajaran, lakukan tindakan perubahan. Karena dari situ kita tidak akan masuk lagi ke lubang yang sama.

Kebijakan Pemerintah mengenai Teori evolusi yang dimasukan dalam kurikulum sekolah sebaiknya perlu ditinjau ulang dengan memperhatikan beberapa fakta. Menurut teori Darwin setiap makhluk hidup selalu berperang untuk mempertahankan kehidupannya dan untuk berkembangbiak. Nah berdasarkan bukti di atas laba- laba memang mesin pembunuh bagi mushnya tapi pada saat yang sama ia menunjukkan kasih sayang pada keturunannya. Bukankah jika teori itu valid, menolong makhluk hidup lain akan mengurangi peluang hidupnya sendiri. Pola perilaku ini semestinya terhapus dengan berjalannya waktu. Tapi banyak fakta menunjukan bahwa makhluk hidup dapat melakukan pengorbanan diri.

Keteladanan tidak selamanya muncul dari orang hebat, cerdas bahakan peraih nobel. Kita bisa belajar dari hal- hal kecil di lingkungan kita. Seperti laba- laba yang multitalenta dalam bertahan hidup di alam. Segala kecerdasan laba- laba ini bukan suatu kebetulan, tapi ini merupakan penciptaan Tuhan semesta alam.

DAFTAR PUSTAKA

Majalah Bulanan Aku Tahu No.13 Th. II Juli 1984

Gunawan,Adi.2003.Born to be a genius. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Yahya,Harun.2004.Pustaka Sains Islami.Bandung:Dzikra

Catatan Pengamatan Pribadi Penulis 23 Juli 2011