Pelajaran dari Si Laba- laba

Standard

Beberapa hari yang lalu aku melihat dua jenis laba- laba di halaman belakang rumahku. Yang satu berwana kuning emas di punggunggnya sedangkan yang satunya lagi berwarna biru dengan suatu pola yang rumit berbaur dengan hitam. Aku ceritakan satu per satu, yang pertama laba- laba emas, sebut saja begitu. Laba- laba emas ini memilki sarang seperti bangun datar persegi banyak dengan garis yang mengikuti sisi- sisinya sampai hampir ke tengah. Karean aku lihat di sekitar titik pusat sarang itu dibuat spasi dari pola garis yang mengikuti sisi- sisinya. Di titik pusat sarang itu lah laba- laba bertasbih pada sang pencipta. Segala mahkhluk hidup di bumi ini yang kita anggap diam sebenarnya mereka sedang bertasbih pada penciptanya, hanya saja kita tidak tahu cara mereka melakukan semua itu.

Tidak sengaja, sungguh. Saat aku menyapu halman, aku merusak sarrangnya. Padahal aku sudah berusaha berhati hati membersihkan daun- daun di sekitar pot- pot Diffenbachia amoena ku, tapi karena sarangnya lengket, sekali sentuh hancur lah sarang yang telah ia bangun. Laba- laba itu hilang entah kemana.

Beberapa hari kemudian aku menemukannya dalam keadaan yang lebih gemuk dari sebelumnya. Aku tidak tahu apakah dia jantan atau betina. Anehnya dia berada di pagar bamboo yang duluny menjadi tumpuan sarang yang aku rusak. Hehe insting jahatku muncul, aku mencoba mengganggunya. Dia terus merayap menuju kea tap seng, sebelum dia melarikan diri aku tahan langkahnya dengan sebatang tongkat yang aku letakan di bibir seng. Diapun langsung saja terjun bebas dengan jarring- jaringnya kea rah bawah, yah seperti menggantung. Rasanya enak sekali jadi laba- laba bisa melakukan atraksi tanpa melakukan gerakan anggota tubuh sedikitpun, dia hanya tinggal menjulurkan jarring- jaringnya. Tapi pikirannku berubah saat aku menyentuh tubuhnya dari bawah. Dengan susah payah dia bekerja dengan 8 jari jemarinya unutk naik ke atas, entah apa yang dia lakukan itu menggulung jarring- jaringnya atau apa. Gerakannya yang cepat membuat mataku sulit untuk mengikutinya.

Saat aku melakukan hal yang sama dengan yang pertama yaitu menehannya pada ujung seng, tiba- tiba dia jatuh tak terkontrol. Ohh tidak apa dia mati. Bukan mati, tapi dia malah lari terbirit- birit menuju bamboo ynag terlihat rapuh. Aku membungkukkan badan untuk mencarinya yang hilang diantara bamboo- bamboo itu.

Its amazing, saataku mencarinya di sebelah kiri ku, aku kesal sekali tak menemukannya tapi saat aku menole ke kanan, masih seperti posisi ruku’ nya orang sholat, aku melihat ratusan serangga kecil berwarna putih, ahh mereka mirip seperti debu- debu putih saat matahari masuk ke dalam rumah lewat jendela yang belum aku buka. Populasinya yang sangat banyak ini mengingatkannku pada semut. Bahkan sikap ramah berpapasan di jalan jarring- jarring itu dilakukan juga oleh laba- laba mungil. Mereka membuat sarang di 2 pot diffenbachiaku yang berdekatan. Aku penasaran sehingga mengikuti rute perjalanan yang sedang dilakukan. Ohh ternyata arahnya ke bahwah daun. Waaaaaa jumlahnya semakin banyak bahkan disana tersimpan rapi kupu- kupu coklat yang sudah dibungkus rapi. Ini sebagai sumber makanan mereka kelak.

Aku beranjak dari anak- anak laba- laba. Aku melanjutkan mencari laba- laba besar yang aku prediksi ia adalah induknya. Aku mencari di balik bamboo rapuh tadi. Subhanallah ternyata di sana sudah dibuat sarang baru. laba- laba memilih membuat sarang yang tempatnya berbeda dari sbelumnya. Rasanya senang sekali kalau semua laba- laba yang sekarang berada di bawah daun diffenbachiaku bisa tumbuh menjadi laba- laba dewasa. Tunggu tanggal mainnya,ckckck

Okay dari pengamatan yang tidak sengaja ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Laba- laba mendidik anak- anaknya menjadi mandiri sejk usia yang masih muda. Ini dibuktikan dengan posisi laba- laba besar dan anak- anaknya terpisah. Tapi laba- laba ini tetap mengawasi anaknya dari jauh, dibuktikan dengan ibu laba- laba yang bertengger di sarang yang berjarak satu meter dari anak- anaknya. Karena isting laba- laba dibutuhkan kemandirian unutk bertahan hidup di alam yang penuh persaingan.

2. Laba- laba memberikan pelajaran dari caranya terjun ke bawah dan naik ke atas. Semua orang dapat dengan mudah menjadi orang yang gagal, karena terlalu lama berada di zona nyamannya, seperti laba- laba saat ia ingin meluncur ke bawah ia tidak perlu susah- susah mengeluarkan tenaganya. sedangkan orang sukses itu butuh perjuangan yang tidak sedikit, seperti laba- laba yang naik ke atas, dia mengerahkan tenaganya unutk menggulung jarring- jaringnya, sehingga gerakannya pun tidak secepat saat ia akan meluncur ke bawah.

3. Laba- laba memberi pelajaran saat dia gagal mengaitkan jarring- jaringnya ke seng, alhasil diapun terjatuh, tapi ia cepat- cepat merayap ke tempat yang lebih aman. Maka jika kita memiliki peluang unutk gagal, gagallah sebesar- besarnya. Karena dari gagal yang besar akan muncul kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

4. Pelajaran sarang laba- laba. Saat aku merusak sarangnya, dia tidak membangun sarangnya di tempat itu lagi, melainkan di tempat lain. Jika kita pernah gagal, maka jadikan itu pelajaran, bukan unutk di kenang. Karena dari situ kita tidak akan masuk lagi ke lubang yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s